Saturday, December 19, 2015

Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Hal Ini?

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Begini ceritanya...

Pada suatu hari saya mengobrol ringan dengan beberapa rekan dosen sambil menunggu waktu mengajar tiba. Obrolan kami diawali dengan topik di seputar aktivitas belajar mengajar di kelas, dari mulai tingkah polah mahasiswa/i yang "menyebalkan" hingga saling berbagi tips mengatasi tingkah polah mahasiswa yang dianggap "menyebalkan" tersebut.

Obrolan kami pun akhirnya tiba pada topik kuliner. Kami saling bercerita tempat dan jenis kuliner yang berkesan maupun yang mengecewakan, dari tempat/daerah yang masing-masing dari kami pernah pernah kunjungi. Obrolan semakin seru ketika ada salah seorang rekan yang non Muslim bercerita tentang pengalamannya menyantap makanan yang haram dimakan oleh Muslim. Rekan yang satu ini mengakui bahwa termasuk penggemar daging babi bahkan daging anjing, Saking gemarnya, dia menyatakan mampu mengingat dengan baik rasa khas dari makanan yang menggunakan daging babi sebagai menu utama maupun sebagai kaldu tambahan penyedap rasa.

Rekan yang satu ini juga bercerita ketika ia berkunjung ke sebuah tempat kuliner, memesan lalu mencicipi makanan yang dihidangkan, dia memiliki keyakinan sangat tinggi bahwa makanan tersebut menggunakan daging babi sebagai campuran bumbunya. "Ada rasa yang khas dan saya sebagai orang yang gemar memakan daging babi, saya hapal betul dengan rasa daging babi maupun makanan yang menggunakan campuran daging babi pada bumbunya", begitu dia berkata.

"Ada pedagang makanan yang jujur dan terang-terangan menginformasikan pada papan nama maupun spanduknya bahwa makanan pada tempatnya terdapat menu mengandung daging babi, ada pedagang yang tidak terang-terang menginformasikannya pada papan nama/spanduk tapi memilih menginformasikan secara lisan kepada pengunjung, dan ada juga pedagang yang tidak menginformasikan/merahasiakannya", begitu dia menjelaskan.

"Saya bahkan sering mengunjungi tempat kuliner yang saya yakin makanannya setidaknya menggunakan daging babi sebagai campuran bumbu, banyak yang pengunjungnya adalah Muslim (menggunakan jilbab), bahkan pernah juga pelayannya menggunakan jilbab. Ketika saya tanya, loh kamu kok jual makanan ini, kamu kan tahu kalau bagi kamu itu haram dan pembelinya juga banyak yang muslim?. Saya kan cuma kerja saja pak, begitu katanya". Cerita rekan saya ini semakin menarik untuk disimak. Bahkan ada juga yang lebih mengagetkan saya, tapi tidak saya sampaikan pada tulisan ini, khawatir menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya memberikan pertanyaan kepada rekan saya ini, "Bapak yakin kalau bapak benar-benar bisa membedakan makanan yang mengandung babi dengan yang tidak?" Rekan saya dengan senyum lebar menjawab "saya sangat yakin, karena saya ini penggemar berat daging babi". Dia menambahkan "bahkan pedagang-pedagang kuliner kaki lima yang pernah saya kunjungi di sekitar kita ini, saya curiga banget kok ya rasanya khas banget ya rasa khas B2", dia menjelaskan.

Nah, dari kisah rekan saya tersebut, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Secara pribadi apabila berkunjung ke sebuah rumah makan, maka saya akan lebih memilih rumah makan yang saya yakini Insya Allah halal, seperti rumah makan Sunda, rumah makan padang. Saya jarang makan di restoran asing, namun jika harus makan di tempat itu maka saya akan memilih restoran yang ada label Halal-nya.

Ketika rekan saya tadi menyatakan bahwa pada pedagang kaki lima pun dia menemukan ada pedagang yang makanannya memiliki rasa khas daging babi seperti yang dia yakini, saya jadi merenung bagaimana menyikapinya? Apakah tepat jika digunakan cara yang sama seperti ketika makan di restoran? 

Misalnya ketika saya ingin membeli semangkuk Mie Bakso di sebuah pedagang kaki lima, apakah tepat jika ketika membeli saya berkata "Mang, ini Mie Baksonya halal kan?" Mengingat ketika membeli itu biasanya pembeli dan penjual dapat berinteraksi langsung dari dekat, saya khawatir pertanyaan saya itu ketika didengar oleh pembeli yang lain jadi menciptakan citra buruk, sehingga jadi tercipta fitnah yang tidak saya sadari.

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?
Terima kasih


Wednesday, December 16, 2015

Kisah Menuju Mekah (Bagian 2)

Melanjutkan dari kisah bagian 1 di sini, saya baru sempat untuk meng-update kisah/cerita ini... maklumlah hehehe...

Untuk melengkapi persyaratan pendaftaran haji, maka saya kemudian mengurus surat keterangan sehat dari Puskesmas. Setelah mendapatkan informasi dari petugas Puskesmas di wilayah saya, diketahui bahwa surat keterangan tersebut harus diurus pada Puskesmas Cirimekar. Tanpa membuang waktu kami pun langsung berkunjung ke Puskesmas Cirimekar dan setelah bertanya pada petugas pendaftaran, saya langsung menuju bagian Rujukan dan Haji.

Bagian Rujukan & Haji Puskesmas Cirimekar

Thursday, November 12, 2015

Distribusi Binomial

Distribusi binomial merupakan distribusi probabilitas diskrit dari percobaan yang dilakukan sebanyak n kali dengan tiap-tiap eksperimen (percobaan) memiliki probabilitas/peluang berhasil (p) dan probabilitas gagal (q), serta masing-masing percobaannya tidak saling mempengaruhi atau saling bebas (independent).

Monday, October 19, 2015

Pengukuran Variabel



Pendahuluan
Pengukuran variabel merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kegiatan penelitian dan sebagai aspek penting dalam desain penelitian. Peneliti tidak dapat melakukan pengujian hipotesis dan memeroleh jawaban akan isu-isu penelitian, tanpa adanya pengukuran variabel. 

Pengukurannya menjadi problematika tersendiri ketika yang akan diukur adalah persepsi, sikap, maupun perasaan subjektif dari individu-individu yang menjadi subjek penelitian. Variabel yang bersifat subjektif ini menjadi kendala atau permasalahan utama dalam penelitian di bidang ilmu manajemen. Hal ini disebabkan peneliti dihadapkan pada variabel konsep yang masih abstrak dan samar-samar. Dengan demikian maka dibutuhkan adanya tahapan yang dapat membuat variabel konsep ini menjadi variabel operasional.

Saturday, October 17, 2015

Survey Motivasi Belanja Konsumen Ritel di Indonesia


Ysh. Bapak/Ibu/Saudara/Saudari
Responden Penelitian
di tempat


Teriring salam dan doa semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari senantiasa sehat wal'afiat dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, ammiin yaa robbal alamiin.

Mohon bantuan dan partisipasi dari para responden untuk dapat mengisi angket survey motivasi belanja konsumen ritel di Indonesia, dari penelitian saya yang sangat sederhana ini. Jawaban yang anda berikan hanya akan digunakan untuk keperluan akademis dalam berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang ilmu Manajemen.

Untuk berpartisipasi pada penelitian ini, silahkan klik di sini

Atas bantuan dan partisipasinya, saya ucapkan terima kasih.

Salam

Budi Setiawan
Dosen STIE Kesatuan Bogor
NIDN 0423078004

Sunday, October 11, 2015

Konsep Bauran Pemasaran (Marketing Mix Concept)


Kegiatan pemasaran banyak memberi penekanan pada konsep bauran pemasaran (marketing mix) yang dikenal dengan istilah 4P, yaitu Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat atau saluran distribusi), dan Promotion (Promosi). Secara sederhana, konsep 4P ini mencakup aktivitas menciptakan dan mendesain produk yang diharapkan mampu memuaskan kebutuhan pelanggan, menentukan harga produk, mendistribusikan produk hingga ke tangan konsumen sesuai dengan kebutuhannya, dan mengkomunikasikan segala keunggulan produk melalui promosi produk kepada pelanggan. Bauran pemasaran dapat dipahami sebagai seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi target pasarnya. unsur atau elemen internal penting yang membentuk program pemasaran sebuah organisasi. Dengan demikian bauran pemasaran dapat dipahami sebagai salah satu konsep universal yang telah dan senatiasa dikembangkan dalam pemasaran. Pada bidang jasa, konsep bauran pemasaran 4P mengalami perkembangan menjadi 7P, yaitu ditambah 4P ditambah 3P terdiri dari People, Process dan Physical Evident/Environment. 

Strategi Zuckerberg dan Sandberg Membangun Strategi Bisnis Jangka Panjang Facebook


Facebook, siapa yang tak mengenalnya? Setiap orang yang terbiasa menggunakan akses internet dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan mengetahui dan bahkan menggunakan media sosial ini untuk berinteraksi/berkomunikasi melalui dunia maya dengan orang lain. Facebook merupakan jejaring sosial yang bermarkas di Menlo Park California, diluncurkan pertama kali pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg bersama dengan rekan kuliahnya yakni Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Saat ini Facebook disinyalir telah memiliki pengguna aktif lebih dari 1,18 miliar pada Agustus 2015.

Strategi Zuckerberg dan Sandberg memilih Diferensiasi dan Biaya Rendah Jangka Panjang untuk membangun strategi bisnis jangka panjang Facebook, dikutip dari Buku Manajemen Strategis (Strategic Management-Formulation, Implementation, and Control) halaman 245, dari John A. Pearce II dan Richard B. Robinson, Jr, disampaikan berikut ini.