Showing posts with label Corat-coret. Show all posts
Showing posts with label Corat-coret. Show all posts

Saturday, May 19, 2018

Push Pull Mooring terkait minat beralih platform social media

"Push Pull Mooring (PPM) - framework" untuk mengukur consumer switching intention
------------------
Loyalitas saya menggunakan FB sudah terbagi dengan IG. Ada faktor pendorong (push factor) dan faktor penariknya (pull factor), serta faktor penghambat/penahannya (mooring factor)

Push factor itu segala sesuatu yang sifatnya negatif, sehingga menyebabkan kita ingin pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Terkait penggunaan socmed, misalnya atmosfir timeline facebook saya sudah tidak kondusif lagi. Setiap hari saya membaca cukup banyak status yang isinya tak jauh dari pembodohan2 publik dan kontra-produktif. Kondisi ini mendorong saya untuk mulai mencoba platform lain, misalnya instagram.

Wednesday, November 1, 2017

Komponen dari Kelas Sosial


Ada beberapa komponen yang dapat digunakan untuk mengukur kelas sosial seseorang, di antaranya adalah: prestise profesi/pekerjaannya, tingkat pendapatan, dan gaya hidupnya.

Misalnya ada 2 orang (A dan B) yang memiliki profesi yang sama, yakni sebagai operator SPBU. A bekerja di SPBU Shell sedangkan B bekerja di SPBU Pertamina. Menurut anda, di antara A dan B mana yang profesinya dipersepsikan lebih prestisius?

Saya sampaikan contoh lain yang jauh lebih sederhana dibandingkan contoh pertama. Profesi sebagai anggota TNI dengan profesi sebagai anggota satgas ormas (misalnya), menurut anda, profesi mana yang dipersepsikan lebih prestisius?

Tingkat dan jenis profesi yang sama dengan organisasi (tipe maupun skala) yang berbeda, menghasilkan persepsi yang berbeda. Sama2 berprofesi sebagai dosen, tapi dosen A ber-homebase di UI (misalnya) dan dosen B ber-homebase di STIE KESATUAN (misalnya). Mana yang lebih prestisius?

Tingkat pendapatan seseorang juga dapat digunakan untuk mengukur kelas sosial seseorang. Namun ternyata tidak cukup dengan hanya mengetahui berapa tingkat pendapatannya, tapi juga harus diketahui dalam jangka waktu berapa lama seseorang tersebut mencapai hasilnya.

Misal A memiliki pendapatan Rp.10 juta yang di raihnya dalam kurun waktu 1 bulan, namun B bisa memiliki pendapatan Rp.10 juta yang diraihnya dalam kurun waktu 1 minggu. Dari sini bisa kita justifikasi mana yang kelas sosialnya lebih tinggi?

Apakah cukup dengan mengetahui tingkat pendapatan? Ternyata tidak cukup. Kita juga harus tahu kemana uang tersebut dibelanjakan? Bagaimana attitude seseorang dalam menggunakan uang? Apakah seseorang tersebut termasuk dalam kategori "tightwards" yang merasakan "emotional pain" ketika berbelanja? Apakah orang tersebut termasuk dalam kategori "spendthrifts" yang merasa enjoy dalam berbelanja?

Hal ini termasuk dalam dimensi gaya hidup yang juga dapat digunakan dalam mengukur kelas sosial seseorang. Kebutuhan sebagai motivasi dasar dipenuhi dengan keinginan yang menyesuaikan pada gaya hidup seseorang. A dan B sama2 butuh makan siang. A memilih makan siang di rumah makan Padang, sedangkan B memilih makan siang di restoran Jepang di sebuah pusat perbelanjaan.

Namun demikian, terdapat pula beberapa hambatan dalam mengukur kelas sosial saat ini. Apa itu? Di antaranya adalah adanya perubahan dalam struktur keluarga, "anonymity" dan ketidakkonsistenan dari kelas sosial.

Persepsi berbicara mengenai seberapa kuat stimulus yang diberikan sebagai exposure. Seperti halnya gambar ini, bagaimana anda berpersepsi mengukur kelas sosial, ketika exposure yang diberikan adalah seperti ini? 😉

Budi Setiawan
@budisetiawan999

Tuesday, December 20, 2016

Tahapan Mencari Gambar via Google

Latar belakang

Informasi yang disebarluaskan melalui media sosial saat ini semakin berlimpah bahkan sangat berlimpah, cenderung tidak terkendali, HOAX di mana-mana (gambar/foto maupun tulisan), sehingga diperlukan adanya informasi tentang bagaimana caranya mengetahui kesahihan sebuah tulisan/berita dengan gambar yang disebarluaskan melalui internet (website, medsos) tersebut.

Tujuan

Berbagi informasi tentang bagaimana caranya mengetahui kesahihan gambar yang dimasukkan pada tulisan disebarluaskan oleh para pengguna media sosial (Saya belum paham caranya mengetahui kesahihan informasi berupa tulisan)

Manfaat

  1. Meminimalisir HOAX berupa gambar
  2. Meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian para pengguna internet dalam berbagi tulisan yang menggunakan gambar di media sosial
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa


Pembahasan

Berikut ini saya sampaikan tahapan-tahapannya se-ringkas mungkin.

Misalnya: Ada konten berita/informasi heboh di socmed dengan mengunggah gambar sendal bolong di bawah ini
Klik pada gambar yang dituju, lalu klik kanan pilih “Search Google for Image”. Saya menggunakan browser Chrome.
Ini hasilnya


Fokus pada gambar yang sama, di klik saja.

Perhatikan gambarnya dan juga tanggal posting di website tersebut, duluan mana tanggalnya dengan foto yang diunggah pemosting gambar di media sosial tersebut?


Kesimpulan:
  1.  Klik gambar
  2. Cari di Google, saya pakai Chrome
  3. Pilih situs dengan gambar yang sama
  4. Jika banyak situs yang sudah memuat gambar yang sama, pilih situs dengan tanggal posting paling awal

Semoga bermanfaat
Belajar dan Berbagi bersama Budi Setiawan

Mari silaturahim:
Instagram: @budisetiawan999
Twitter: @budisetiawan999
FB: @budisetiawan999 



Monday, July 25, 2016

Tip Berinvestasi secara Aman

Foto: Tol Bandung - Jakarta

Tip Perlindungan Konsumen dan Berinvestasi secara Aman dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan)

Mengacu pada Pasal 4 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang OJK, diketahui bahwa salah satu tugas OJK adalah memberikan perlindungan kepada konsumen dan/atau masyarakat. Implementasi pelaksanaan tugas tersebut adalah dengan melakukan dua aksi pendekatan, yakni aksi preventif dan aksi represif.

Sebagai bagian dari aksi preventif, OJK berupaya meningkatkan literasi keuangan yang dapat berimplikasi pada perlindungan konsumen yang baik. Tip Perlindungan Konsumen adalah sebagai berikut:

Thursday, March 10, 2016

Opini Malam Jumat



#OpiniMalamJumat
Saat masa-masa merayu, semua tebar senyum ke segala penjuru. Cium tangan pada para pemuka agama, hingga ambil sikap heroic menggendong rakyat jelata, untuk satu kata: suara!. Masa-masa di mana bertebaran segala dalil dan dalih untuk kemenangan jagoannya, obral murah saja tanpa peduli asal muasal, yang penting asal membual, angkuh bangga berotak bebal.

Banyak yang membela dengan harap imbal berganda, tak sedikit pula yang membela dengan sukarela. Namun luka tetap saja tak bisa diduga, di balik layar bening persegi, terpatri satu jeda tambah menganga di dunia nyata. Waktu berlalu cerita tak pernah layu akan segala tingkah laku, semuanya membentuk pola yang kembali “lucu”.

Opini ku opini malam jumat. Saat secangkir teh mulai dingin diterpa hembusan angin terkondisi, saat senyum manis sang jelita perlahan memudar dihapus jejak-jejak gerhana yang tak mampu dipandang mata. Pena ini ingin menari dalam alunan melodi selaras dengan imajinasi. Opini ini sekedar pahatan gelisah akan fenomena yang seakan tak pernah lelah.

Opini Malam Jumat berkisah jejak-jejak sejarah bentuk pola penuh gelisah. Masa-masa menyebalkan di beranda hayal dunia maya, kembali mulai genit menggoda. Mulai informasi berbasis fakta hingga katanya dan katanya, tak jarang hanya curiga yang tumbuh dari angkara murka.

Masa-masa menyebalkan itu kini kembali datang menyapa beranda alam maya. Pasukan-pasukan semu akan datang dari segala penjuru, berlomba bersikap paling lucu. Opiniku opini malam Jumat, teriring senyum kecut yang ku pahat. Duduk manis bersiap, melihat kelucuan yang mulai bergeliat dalam nyata maupun senyap. Mari kita nikmati segala dalil dan dalih yang semakin rutin menari-nari, di malam Jumat ini kupahatkan dalam sebuah opini yang mungkin tak berarti.  
Bogor, 10/03/2016; 18:10 WIB

Saturday, December 19, 2015

Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Hal Ini?

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Begini ceritanya...

Pada suatu hari saya mengobrol ringan dengan beberapa rekan dosen sambil menunggu waktu mengajar tiba. Obrolan kami diawali dengan topik di seputar aktivitas belajar mengajar di kelas, dari mulai tingkah polah mahasiswa/i yang "menyebalkan" hingga saling berbagi tips mengatasi tingkah polah mahasiswa yang dianggap "menyebalkan" tersebut.

Obrolan kami pun akhirnya tiba pada topik kuliner. Kami saling bercerita tempat dan jenis kuliner yang berkesan maupun yang mengecewakan, dari tempat/daerah yang masing-masing dari kami pernah pernah kunjungi. Obrolan semakin seru ketika ada salah seorang rekan yang non Muslim bercerita tentang pengalamannya menyantap makanan yang haram dimakan oleh Muslim. Rekan yang satu ini mengakui bahwa termasuk penggemar daging babi bahkan daging anjing, Saking gemarnya, dia menyatakan mampu mengingat dengan baik rasa khas dari makanan yang menggunakan daging babi sebagai menu utama maupun sebagai kaldu tambahan penyedap rasa.

Rekan yang satu ini juga bercerita ketika ia berkunjung ke sebuah tempat kuliner, memesan lalu mencicipi makanan yang dihidangkan, dia memiliki keyakinan sangat tinggi bahwa makanan tersebut menggunakan daging babi sebagai campuran bumbunya. "Ada rasa yang khas dan saya sebagai orang yang gemar memakan daging babi, saya hapal betul dengan rasa daging babi maupun makanan yang menggunakan campuran daging babi pada bumbunya", begitu dia berkata.

"Ada pedagang makanan yang jujur dan terang-terangan menginformasikan pada papan nama maupun spanduknya bahwa makanan pada tempatnya terdapat menu mengandung daging babi, ada pedagang yang tidak terang-terang menginformasikannya pada papan nama/spanduk tapi memilih menginformasikan secara lisan kepada pengunjung, dan ada juga pedagang yang tidak menginformasikan/merahasiakannya", begitu dia menjelaskan.

"Saya bahkan sering mengunjungi tempat kuliner yang saya yakin makanannya setidaknya menggunakan daging babi sebagai campuran bumbu, banyak yang pengunjungnya adalah Muslim (menggunakan jilbab), bahkan pernah juga pelayannya menggunakan jilbab. Ketika saya tanya, loh kamu kok jual makanan ini, kamu kan tahu kalau bagi kamu itu haram dan pembelinya juga banyak yang muslim?. Saya kan cuma kerja saja pak, begitu katanya". Cerita rekan saya ini semakin menarik untuk disimak. Bahkan ada juga yang lebih mengagetkan saya, tapi tidak saya sampaikan pada tulisan ini, khawatir menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya memberikan pertanyaan kepada rekan saya ini, "Bapak yakin kalau bapak benar-benar bisa membedakan makanan yang mengandung babi dengan yang tidak?" Rekan saya dengan senyum lebar menjawab "saya sangat yakin, karena saya ini penggemar berat daging babi". Dia menambahkan "bahkan pedagang-pedagang kuliner kaki lima yang pernah saya kunjungi di sekitar kita ini, saya curiga banget kok ya rasanya khas banget ya rasa khas B2", dia menjelaskan.

Nah, dari kisah rekan saya tersebut, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Secara pribadi apabila berkunjung ke sebuah rumah makan, maka saya akan lebih memilih rumah makan yang saya yakini Insya Allah halal, seperti rumah makan Sunda, rumah makan padang. Saya jarang makan di restoran asing, namun jika harus makan di tempat itu maka saya akan memilih restoran yang ada label Halal-nya.

Ketika rekan saya tadi menyatakan bahwa pada pedagang kaki lima pun dia menemukan ada pedagang yang makanannya memiliki rasa khas daging babi seperti yang dia yakini, saya jadi merenung bagaimana menyikapinya? Apakah tepat jika digunakan cara yang sama seperti ketika makan di restoran? 

Misalnya ketika saya ingin membeli semangkuk Mie Bakso di sebuah pedagang kaki lima, apakah tepat jika ketika membeli saya berkata "Mang, ini Mie Baksonya halal kan?" Mengingat ketika membeli itu biasanya pembeli dan penjual dapat berinteraksi langsung dari dekat, saya khawatir pertanyaan saya itu ketika didengar oleh pembeli yang lain jadi menciptakan citra buruk, sehingga jadi tercipta fitnah yang tidak saya sadari.

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?
Terima kasih


Friday, October 2, 2015

Garis Kemiskinan dan Gini Rasio di Jawa Barat pada Maret 2014 - September 2014


Opini Sederhana Mengenai Garis Kemiskinan dan Gini Rasio di Jawa Barat Berdasarkan Data BPS pada Maret 2014 - September 2014
==========================================
BPS telah mempublikasikan Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi September 2015 pada website (bps go id). Saya tertarik untuk mengetahui Garis Kemiskinan dan perkembangan Gini Rasio Maret 2014 - September 2014, di wilayah Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, Gini Rasio merupakan sebuah metode yang sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan. Tingkat ketimpangan pendapatan itu sendiri merupakan salah satu aspek kemiskinan yang harus diperhatikan dan dicermati secara seksama. Mengapa? karena pada dasarnya tingkat ketimpangan pendapatan adalah ukuran kemiskinan relatif. 

Gini rasio didasarkan pada kurva Lorenz, yakni sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Koefisien Gini berkisar antara 0 hingga 1, dengan ketentuan jika koefisien Gini bernilai 0 maka bermakna bahwa pemerataan telah tercipta dengan sempurna sempurna. Kebalikannya, jika bernilai 1, maka dapat diartikan telah tercipta ketimpangan yang sempurna.

Wednesday, July 8, 2015

Menelaah Usia Situs Berita Online dan Bagaimana Sebaiknya Bersikap Terhadap Gempuran Berita di Dunia Maya

Halo rekan

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk belajar mengetahui kapan sebuah situs online dibuat dan kadaluwarsa (jika tidak diperpanjang domainnya), dengan menggunakan fitur/aplikasi dari Whois.net. Ketertarikan saya untuk mempelajari bagaimana caranya mengetahui usia sebuah situs online adalah berawal dari semakin maraknya para pengguna social media berbagi tauran (link) dari berbagai situs online. Apalagi sejak Pileg dan Pilpres pada Tahun 2014. lini masa social media semakin ramai dan tak pernah sepi.

Beberapa nama situs (nama domain) yang kerap di-share beritanya oleh rekan-rekan di social media... rasanya baru saya mendengar nama situs online tersebut sehingga untuk memastikannya saya pun browsing di internet bagaimana caranya mengetahui usia sebuah situs. Dari hasil browsing tersebut akhirnya saya mengetahui caranya adalah memanfaatkan aplikasi dari Whois.net

Postingan saya kali ini tidak bermaksud menilai maupun menjustifikasi kebenaran maupun validitas isi artikel dari situs-situs yang saya tampilkan. Postingan kali ini MURNI hanya ingin memberikan informasi kepada rekan-rekan tentang bagaimana caranya mengetahui usia sebuah situs online, sehingga informasi yang diperoleh dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam bersikap. Saya ingin mengajak rekan-rekan untuk berpikir jernih dan selalu cek dan ricek akan suatu pemberitaan, khususnya di social media. Sehingga dengan demikian untuk menjaga nama baik dari situs online yang bersangkutan, saya tidak menampilkan seluruh nama domainnya (disensor). 

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Wednesday, April 22, 2015

Socmedpreneur dan Fenomena Arti Nama


Socmedpreneur dan Fenomena Arti Nama
Oleh: Budi Setiawan

Budi Setiawan
Nama anda memiliki makna sebagai pribadi yang energik, tangguh dan kokoh dalam menghadapi badai... dan seterusnya...
Akhir-akhir ini para penduduk Fesbuk nampaknya cukup menikmati aplikasi hiburan yang belum diketahui siapa pembuatnya ini. Ada yang kegirangan karena merasa "tepat/sesuai" dengan kondisinya, ada juga yang tersenyum bahkan tertawa membaca hasilnya.
Apapun nama yang diinput pada aplikasi tersebut, pasti menampilkan "terjemahan" dengan hasil yang positif. Tak heran kemudian aplikasi ini digunakan untuk lucu-lucuan sampai sindir-sindiran. Nama "Iblis" hingga "The Nyinyirs" turut dicari "arti namanya".

Saya mencoba membahas dari sudut pandang yang mungkin masih sedikit mendapat perhatian. Coba perhatikan content dari website (aplikasi) tersebut, terdapat tampilan iklan (ads) bukan? Coba perhatikan pula topik iklan yang muncul, penempatan hingga warna teks-nya. Yups, the ads perfectly blending. Apakah kita peduli? jawabannya relatif. Namun yang jelas kita umumnya peduli akan kesenangan, terpuaskannya "rasa penasaran" dan "hawa nafsu" kita memahami arti sebuah nama.
Perhatikan sub domain dari situs tersebut, ada yang diberi sub domain id (untuk hasil dalam Bahasa Indonesia) dan sub domain en (results in English). Cerdik nian pembuat web tersebut. Traffic pengunjung web tersebut akan meningkat signifikan, seiring dengan semakin meningkatnya trend penggunaan aplikasi tersebut oleh penduduk Fesbuk.

Friday, March 20, 2015

Udin: Tukang Cukur Langganan Saya


=== Udin: Tukang Cukur Langganan Saya ===

Udin, itulah nama dari tukang cukur langganan saya. Secara fisik Udin memang memiliki kekurangan, terlahir dengan kondisi kakinya yang kecil sebelah sehingga harus menggunakan tongkat pada tiap aktivitasnya.

Kondisi ini tidak membuatnya putus asa, selepas menempuh pendidikan vokasional untuk kaum disabilitas dari Kemensos, Udin mencoba beragam usaha dari service elektronik hingga saat ini sebagai tukang cukur.

Pagi tadi sebelum mengantar anak sulung saya ke sekolah, saya menyempatkan diri mampir ke Udin untuk cukur. Maklumlah, rambut saya sudah gondrong dan besok mau "show" di UPH hehehe. Pada ruang cukur berukuran sekitar 3 X 4 meter, saya mengantri dicukur Udin.

Tibalah giliran saya, "Din, biasa ya 1 senti aja" saya langsung request. Udin pun paham betul apa yang saya minta dan dengan cekatan bekerja. "Jenggot sama kumisnya sekalian juga kan ya mas?" Udin mengkonfirmasi. "Yoi lah, sekalian rapi Din", saya mengiyakan.
"Kemarin minggu buka jam berapa Din, saya jam 8 ke sini sekalian pulang dari lapangan main bola, Udin masih tutup?" Tanya saya.
"Jam 8 sudah buka padahal, lagi siap2 di dalam kali ya, jadi pintu belum dibuka. Soalnya kalau jumat ampe minggu itu emang lagi rame2nya" jawab Udin.
"Emangnya kalau di hari2 itu bisa rata2 berapa pelanggan Din?" Tanya saya.
"Alhamdulillah kalau Jumat-Minggu antara 50-60 orang, kalau hari lainnya sekitar 20-40an lah" jawab Udin.

Sejenak saya berhitung, dengan tarif cukur Rp.8ribu-Rp.10ribu, berarti omset Udin dalam 1 bulan kira2 berkisar Rp.3,5juta - Rp.7,2juta.
Wow amazing....Tak heran Udin bisa membeli rumah dari hasil mencukur, membuat orang lain senang dengan penampilan yang lebih guanteng.

Udin, seorang penyandang disabilitas yang tangkas memangkas rambut pelanggannya agar tampil lebih pantas. Fisik dan pendidikan formalnya memang terbatas, namun kreativitasnya asah keterampilan relatif tak berbatas.

Sementara sebagian orang2 hebat berpendidikan tinggi, masih saja ribut masalah remunerasi. Lalu ke mana kreativitas pergi? Jangan katakan kalau telah berubah wujud menjadi korupsi.

Budi Setiawan 18/3/2015 22.12 WIB

Mari Belajar Menilai dengan Ilmu


=== Mari Belajar Menilai dengan Ilmu ===

Rasanya... 
Tergoda juga jari jemari saya di ponsel untuk "ikut-ikutan" share sana sini umbar emosi...
Namun berusaha mencoba tahan diri...
Informasi terbatas dari genggam posel dalam jari...

Bagaimana jika kupaksa diriku
Menilai semua ini dengan ilmu...
Agar tahu kepada siapa seharusnya emosi tertuju...
Masa kini ataukah masa lalu...
Masa(k) kita selalu saja tertipu...?
Masa depan jangan sampai kelabu
Wariskan bangsa indah untuk anak cucu...

Mari kita (belajar) menilai dengan ilmu
Bukan dengan hawa nafsu

Budi Setiawan, 20/3/2015 18:15 WIB

Wednesday, March 11, 2015

Sajak Kerja


=== Sajak Kerja ===

Kami di sini...
Kerja... Kerja... Kerja...
Subsidi itu buat orang yang malas.. 
Kami pekerja keras
Kerja... kerja... kerja
Bayar pajak nominal lebih pantas
Kami pekerja keras...
Beras mahal kami (terpaksa) harus ikhlas
Mungkin di gudang terlalu banyak kutu buas

Kerja... kerja... kerja...
Sumbangsih kami untuk negara
Bahkan saudara kami adalah pahlawan devisa
Agar negeri ini gagah perkasa
Kerja... kerja... kerja...
Keringat anak-anak bangsa...

Silahkan dinikmati
Triliyunan uang keringat kami
Duhai para pemimpin negeri
Juga kalian yang sukses mewakili
Nikmat dunia bumi pertiwi

Berpestalah kalian semua
Biar kami yang kerja
Sajak ini sajak kerja
Ketika emosi merangkai kata

Budi Setiawan, 10/3/15 20.52 wib

Friday, January 23, 2015

Masihkah Kita Tidak Mau Bersabar?

Masihkah Kita Tidak Mau Bersabar?

Pandai bersabar bukanlah sebuah bakat, 
akan tetapi merupakan perenungan pribadi 
pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat. 
Bolehlah kita flashback sejenak, 
sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, 

apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?


Sabar merupakan hak milik pribadi yang beriman, 
salah satunya adalah tentang keyakinan akan janji-Nya: 

“Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”.
Jadi... masihkah kita tidak mau bersabar?

Berbaik Sangka


~ Berbaik sangka ~ 

Berbaik sangka menghapus duka... 
Berbaik sangka sembuhkan luka... 
Berbaik sangka datangkan tawa... 
Berbaik sangka jadi pahala... 
Berbaik sangka pada sesama... 
Berbaik sangka untuk semua... 
Berbaik sangka saat salah diduga... 
Berbaik sangka itu pun perintah-Nya... 

Mungkin raga kadang pedih... 
Mungkin hati kadang lirih... 
Tapi langkah tiada risih... 
Berbaik sangka itu pasti yang ku pilih... 
Untaian bening butiran mutiara.... 
Kilau indah bercahaya... 
Terangi gelapnya lorong jiwa dan raga... 
Diriku kan selalu berbaik sangka....


16/4/13

Thursday, January 22, 2015

Duhai Jelita


Duhai Jelita...
Salam rindu merah merona
Sapa hangat padamu pesona
Getar hati terpahat nama
Harum semerbak dalam aroma...

Sampaikah salam ku selama ini?
Kutitip selalu rasa rindu hati...
Pada tiap tetes embun pagi...
Sambut hangat sang mentari...
Menyapamu dari alam mimpi...

Duhai jelita...
Syair ini bicara cinta...
Tentang rasa bola mata..
Manis senyum mutiara...
Selalu mampu buatku terpana...
Sulit untuk cari padanan kata...

Duhai jelita kekasih hati...
Semilir lembut angin dini hari...
Kusapa dirimu lewat mimpi...
Dalam pena yang lincah menari...
Esok kita jumpa diri... 
di bawah sinar mentari pagi
===
Budi Setiawan 23/1/15 00:15 WIB

Wednesday, January 21, 2015

02.00 Dini Hari

Sumber: Google Images

~ 02.00 Dini Hari ~

02.00 Dini hari...
Terbangun dari mimpi... basuh wajah wujudkan mimpi...
Hening romansa... dingin menggoda...
Jadi stimulus membakar asa...

Kala inspirasi melimpah ruah dalam ruang imaji...
dan jari jemari ku kembali menari-nari...
rangkai huruf menjadi kata...
rangkai kata menjadi cerita...

Seimbangkan diri... selaraskan hati...
Semuanya butuh proporsi...
Kadang kurang.. kadang lebih.. 
kurang dan lebih itulah cerminan diri...
Itulah Dinamika hidup.... seindah pelangi...

Hmmm... sebenarnya apa yang hendak dicari...???
bukankah muaranya adalah Ridho Ilahi...???

02.00 Dini hari...
goresan pena ini... kan menjadi saksi...
perjuangan tiada lelah tiada henti...
soal hasil.. itu urusan Ilahi...
Semoga yang terbaik... ucap lisan teguh hati...

Budi Setiawan, 20/05/13

Tuesday, January 20, 2015

Rembulan pun Tersipu Malu

Rembulan pun Tersipu Malu

Malam ini aku pandangi langit dalam dingin angin membelai tulang belulang...
Terbungkus dalam daging lapis kulit, 
belaiannya seakan tak ingin lepas begitu saja memberi rasa..
Bergetar seluruh dawai diri 
bak lantunan nada-nada pelangi...
Malam ini dingin sekali...

Sesekali aku tengok dunia maya, 
warna warni rupa dan rasa dalam cerita...
Ramai nian diskusi, 
Dari urusan gaji sampai urusan selfie, 
masing2 sibuk larutkan diri...
Masih saja sama seperti malam-malam sebelumnya, 
tiadakah kalian rindu bicarakan cinta?

Kedua mataku memandang pekat langit malam dalam syahdu...
Syair sang pujangga 
seolah hantarkan rasa rindu dalam dada
Rinduku pada kerlip genit bintang-bintang nan riang
Formasi indah mengukir nama kekasih 
di mana rindu ini tumbuh merekah...

Dingin malam ini...
Ingin ku lukis rembulan seraut wajah manis
Wajahmu...
dan rembulan pun tersipu malu
=====
Budi Setiawan Bogor, 20/1/15 20.30 WIB

Monday, January 19, 2015

Titik Koma

Titik Koma


Bagaimana?
Sudah mulai paham sekarang?
Tidak ada yang abadi dalam politik pewayangan
Kawan ketika satu kepentingan..
Lawan ketika beda kepentingan...
Tak tega hati ini tuk meyakini labelisasi
Membaca resah tentang "negeri para bedebah"
Betapa sedihnya ibu pertiwi...
Masih ingat betapa heroiknya...
Pendekar sakti akun2 dunia maya...?
Apa tak pernah dipikirkan dampaknya dalam hubungan nyata?
Ketika satu persatu sahabat pergi..
Ketika perlahan status akun dihinggapi sepi... 
Ketika tega hati tuk sakiti karena pribadi yang tak pasti...
Logika di mana kau berada?
Nurani perlahan meredup mati..
Siapa bisa memberi pasti
Apa yang tersembunyi di relung hati
Sementara pandangan mata
Kita paham dapat saja berdusta

-Titik Koma-
Budi Setiawan 14/1/15 21.30 WIB

Puisi Hampir Saja

- Puisi Hampir Saja - 

Ketika kobaran emosi telah membara di pelupuk mata 
hati menjadi mati dan pikiran menjadi buta 
dalam gelap goresan ku memberi luka 
dalam lunglai angkuh diri merasa jumawa 
kubalas luka dengan luka 
pada hati mereka yang mungkin tak berdosa 
pantaskah diri merasa mulia? 
terbersit lirih jangan-jangan aku yang lebih hina 

Yaa Tuhan... hampir saja aku lupa... 
pandangan mata dapat berkata dusta 
pandangan hati ku mungkin telah pekat tertutup noda 
Yaa Tuhan... hampir saja aku terpedaya... 
bisikan-bisikan emosi bercampur rasa 
rasa benci maupun rasa cinta 
berlebihan rasa ku luapkan segala.. 
jangan-jangan aku memang tak tau apa-apa 

Yaa Tuhan... hampir saja... 
jika bukan karena rahmat-Mu... 
mungkin aku lupa jati diriku... 


Budi Setiawan, Bogor 16/1/15 18:05 WIB