Saturday, March 19, 2016

Dear Om Maling

Maling (Sumber: Google Images)

Dear Om Maling....

Apa kabar om? saya panggil om saja ya...
Bagaimana kemarin, laptop-nya sudah laku terjual?
Kalau duitnya dipake buat memberi makan anak istri...
Saya ikhlas om... mudah-mudahan haram jadi halal ya...

Begini om...
Seminggu yang lalu, hati kecil saya berbisik...
Untuk back up data, takut error laptopnya...
Om tau gak, saya udah backup data2 di USB...
Bahkan sampai habis 2 USB buat backup loh om...
Nah... USB itu saya taro di dalam tas...
Itu loh.. tas yang om bawa kabur bersama laptop dan lainnya...
Bisa gak om... balikin USB-nya..?
Gak bisa ya?

Begini loh om...
Rencananya di pertengahan tahun ini...
Saya mau menawarkan tulisan saya untuk diterbitkan jadi buku
Kayak si Orange sama si Biru itu loh om...
Ah si Om kayaknya gak bakal demen deh sama begituan
Pusing om ngolah data statistic... gak bakal doyan deh
Rencana awalnya sih semoga terbit di awal tahun 2017
Mikir dan nulisnya capek loh Om...
Kadang sampai lupa waktu... saking asyiknya menulis
Dipikir, ditulis, diedit, begitu deh Om kira-kira alurnya

Thursday, March 10, 2016

Opini Malam Jumat



#OpiniMalamJumat
Saat masa-masa merayu, semua tebar senyum ke segala penjuru. Cium tangan pada para pemuka agama, hingga ambil sikap heroic menggendong rakyat jelata, untuk satu kata: suara!. Masa-masa di mana bertebaran segala dalil dan dalih untuk kemenangan jagoannya, obral murah saja tanpa peduli asal muasal, yang penting asal membual, angkuh bangga berotak bebal.

Banyak yang membela dengan harap imbal berganda, tak sedikit pula yang membela dengan sukarela. Namun luka tetap saja tak bisa diduga, di balik layar bening persegi, terpatri satu jeda tambah menganga di dunia nyata. Waktu berlalu cerita tak pernah layu akan segala tingkah laku, semuanya membentuk pola yang kembali “lucu”.

Opini ku opini malam jumat. Saat secangkir teh mulai dingin diterpa hembusan angin terkondisi, saat senyum manis sang jelita perlahan memudar dihapus jejak-jejak gerhana yang tak mampu dipandang mata. Pena ini ingin menari dalam alunan melodi selaras dengan imajinasi. Opini ini sekedar pahatan gelisah akan fenomena yang seakan tak pernah lelah.

Opini Malam Jumat berkisah jejak-jejak sejarah bentuk pola penuh gelisah. Masa-masa menyebalkan di beranda hayal dunia maya, kembali mulai genit menggoda. Mulai informasi berbasis fakta hingga katanya dan katanya, tak jarang hanya curiga yang tumbuh dari angkara murka.

Masa-masa menyebalkan itu kini kembali datang menyapa beranda alam maya. Pasukan-pasukan semu akan datang dari segala penjuru, berlomba bersikap paling lucu. Opiniku opini malam Jumat, teriring senyum kecut yang ku pahat. Duduk manis bersiap, melihat kelucuan yang mulai bergeliat dalam nyata maupun senyap. Mari kita nikmati segala dalil dan dalih yang semakin rutin menari-nari, di malam Jumat ini kupahatkan dalam sebuah opini yang mungkin tak berarti.  
Bogor, 10/03/2016; 18:10 WIB

Thursday, February 25, 2016

Materi Pelatihan pada Sesi Berbagi Teknik Praktis Analisis Data Statistik dengan SPSS


Materi pelatihan pada sesi berbagi teknik praktis analisis data statistik dengan SPSS yang In sha Allah saya sampaikan pada rekan-rekan dosen pada Jum'at 26 Februari 2016, di Bogor.

Untuk mengunduh, silahkan klik file yang disediakan.

  1. Slide power point materi pelatihan
  2. File latihan 1
  3. File latihan 2 (tambahan)
 Semoga bermanfaat

Saturday, January 23, 2016

Praktikum MSI (Method of Successive Interval) Menggunakan Excel


Berikut ini saya unggah file praktikum MSI (Method of Successive Interval) yang kerap digunakan oleh para akademisi di bidang ilmu Manajemen, dalam upaya mengkonversi data Ordinal menjadi Interval. Meng-convert data dari Ordinal menjadi Interval memang menjadi perdebatan yang cukup hangat, terdapat pro dan kontra. Dalam hal ini saya mengesampingkan perdebatan itu dan hanya berniat ingin berbagi sedikit hal yang saya pahami mengenai teknik MSI ini, melalui file praktikum MSI dengan menggunakan Excel.
Semoga bermanfaat :)
Salam
Belajar dan Berbagi bersama Budi Setiawan

Praktikum MSI (Method of Successive Interval) menggunakan Excel:
  1. MSI = Method of Successive Interval
  2. Dianggap sebagai prosedur sah untuk mengkonversi data Ordinal (skala Likert) menjadi Interval, untuk teknik analisis parametrik (misal korelasi pearson, regresi linear)... Topik "panas" Likert: Ordinal vs Interval? :-D
  3. Tahapan-tahapannya adalah dengan menghitung:
  • Frekuensi
  • Proporsi
  • Proporsi kumulatif
  • Nilai z
  • Nilai densitas fungsi z
  • Scale value
  • Penskalaan



Sunday, January 3, 2016

Jika "SESAT" kembalikan saya ke "Jalan yang Benar"


Jika "SESAT" kembalikan saya ke "Jalan yang Benar"

Dalam perspektif ilmu sosial (khususnya ilmu Manajemen), analisis hubungan kausalitas (linear prediktif) di antara variabel laten, diukur dengan indikator-indikator pengukuran yang diturunkan dari dimensi dan defisini variabel, dijabarkan pada operasionalisasi variabel berlandaskan LANDASAN TEORI ILMIAH.

Indikator-indikator tersebut menggunakan skala Likert yang memiliki skala pengukuran ORDINAL. Saya berikan contoh kasus sederhana.

Misal:
Saya ingin mengukur pengaruh: Perceived Quality dan Perceived Value terhadap Customer Satisfaction.

Beberapa teknik yang kerap digunakan adalah:
1. Regresi Linear Berganda
Loh kok pakai teknik ini? kan Ordinal?
Sebentar, saya jelaskan berdasarkan fenomena yang ada.

Wednesday, December 30, 2015

si Culun dan si Hebat


si Culun dan si Hebat
====================================================
Culun: horee tulisan saya ada di jurnal lokal
Hebat: lokal biasanya gak ada seleksi ketat, gampang, klo nasional tuh lebih susah!

Jreeengg

Culun: asyiik tulisan saya ada di jurnal nasional
Hebat: udah terakreditasi belum? Klo akreditasi Dikti tuh wiih njelimet

Jreeengg

Culun: yeesss tulisan saya publish di jurnal terakreditasi Dikti
Hebat: biasa ajalah, klo blm ke index reputasinya

Jreeeengg

Culun: waahh ternyata udah keindex ebsco artikel saya. Tahun ini publish yg kedua...
Hebat: udah keindex scopus belum, klo belum yaa masih abal2...

Culun mesem lalu ngomong singkat:
"Makasih ya mas Hebat, atas motivasinya selama ini...
btw mas Hebat ini udah publikasi di mana aja?"

Hening

Saturday, December 19, 2015

Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Hal Ini?

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Begini ceritanya...

Pada suatu hari saya mengobrol ringan dengan beberapa rekan dosen sambil menunggu waktu mengajar tiba. Obrolan kami diawali dengan topik di seputar aktivitas belajar mengajar di kelas, dari mulai tingkah polah mahasiswa/i yang "menyebalkan" hingga saling berbagi tips mengatasi tingkah polah mahasiswa yang dianggap "menyebalkan" tersebut.

Obrolan kami pun akhirnya tiba pada topik kuliner. Kami saling bercerita tempat dan jenis kuliner yang berkesan maupun yang mengecewakan, dari tempat/daerah yang masing-masing dari kami pernah pernah kunjungi. Obrolan semakin seru ketika ada salah seorang rekan yang non Muslim bercerita tentang pengalamannya menyantap makanan yang haram dimakan oleh Muslim. Rekan yang satu ini mengakui bahwa termasuk penggemar daging babi bahkan daging anjing, Saking gemarnya, dia menyatakan mampu mengingat dengan baik rasa khas dari makanan yang menggunakan daging babi sebagai menu utama maupun sebagai kaldu tambahan penyedap rasa.

Rekan yang satu ini juga bercerita ketika ia berkunjung ke sebuah tempat kuliner, memesan lalu mencicipi makanan yang dihidangkan, dia memiliki keyakinan sangat tinggi bahwa makanan tersebut menggunakan daging babi sebagai campuran bumbunya. "Ada rasa yang khas dan saya sebagai orang yang gemar memakan daging babi, saya hapal betul dengan rasa daging babi maupun makanan yang menggunakan campuran daging babi pada bumbunya", begitu dia berkata.

"Ada pedagang makanan yang jujur dan terang-terangan menginformasikan pada papan nama maupun spanduknya bahwa makanan pada tempatnya terdapat menu mengandung daging babi, ada pedagang yang tidak terang-terang menginformasikannya pada papan nama/spanduk tapi memilih menginformasikan secara lisan kepada pengunjung, dan ada juga pedagang yang tidak menginformasikan/merahasiakannya", begitu dia menjelaskan.

"Saya bahkan sering mengunjungi tempat kuliner yang saya yakin makanannya setidaknya menggunakan daging babi sebagai campuran bumbu, banyak yang pengunjungnya adalah Muslim (menggunakan jilbab), bahkan pernah juga pelayannya menggunakan jilbab. Ketika saya tanya, loh kamu kok jual makanan ini, kamu kan tahu kalau bagi kamu itu haram dan pembelinya juga banyak yang muslim?. Saya kan cuma kerja saja pak, begitu katanya". Cerita rekan saya ini semakin menarik untuk disimak. Bahkan ada juga yang lebih mengagetkan saya, tapi tidak saya sampaikan pada tulisan ini, khawatir menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya memberikan pertanyaan kepada rekan saya ini, "Bapak yakin kalau bapak benar-benar bisa membedakan makanan yang mengandung babi dengan yang tidak?" Rekan saya dengan senyum lebar menjawab "saya sangat yakin, karena saya ini penggemar berat daging babi". Dia menambahkan "bahkan pedagang-pedagang kuliner kaki lima yang pernah saya kunjungi di sekitar kita ini, saya curiga banget kok ya rasanya khas banget ya rasa khas B2", dia menjelaskan.

Nah, dari kisah rekan saya tersebut, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Secara pribadi apabila berkunjung ke sebuah rumah makan, maka saya akan lebih memilih rumah makan yang saya yakini Insya Allah halal, seperti rumah makan Sunda, rumah makan padang. Saya jarang makan di restoran asing, namun jika harus makan di tempat itu maka saya akan memilih restoran yang ada label Halal-nya.

Ketika rekan saya tadi menyatakan bahwa pada pedagang kaki lima pun dia menemukan ada pedagang yang makanannya memiliki rasa khas daging babi seperti yang dia yakini, saya jadi merenung bagaimana menyikapinya? Apakah tepat jika digunakan cara yang sama seperti ketika makan di restoran? 

Misalnya ketika saya ingin membeli semangkuk Mie Bakso di sebuah pedagang kaki lima, apakah tepat jika ketika membeli saya berkata "Mang, ini Mie Baksonya halal kan?" Mengingat ketika membeli itu biasanya pembeli dan penjual dapat berinteraksi langsung dari dekat, saya khawatir pertanyaan saya itu ketika didengar oleh pembeli yang lain jadi menciptakan citra buruk, sehingga jadi tercipta fitnah yang tidak saya sadari.

Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?
Terima kasih